Bekam

image

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Anatomi Bekam

image

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hati hati dengan Fikiran Anda

Saya menemukan beberapa kasus orang yg merasa terkena gangguan jin padahal sebenarnya hanya fikiran mereka yg tidak bisa dikendalikan.
Umumnya karena merasa bersalah, rendah diri dan tidak ridho dengan yang terjadi dalam kehidupannya.

Sebagai contoh seorang istri yg terus kefikiran suaminya yg telah wafat. Ini memang berat, tapi bukankah kita semua bakal mati?…setahun lebih beliau menderita…namun Alhamdulillah setelah ruqyah dan dakwah, beliau bisa bangkit dan sehat ceria kembali, karena dokter juga ga mau ngasih obat…sebab secara fisik sehat sehat saja.

Ada juga seorang anak yg merasa bersalah selama enam tahun menderita sebab ibunya meninggal dan dia merasa belum banyak berbuat baik pada ibunya itu…padahal anak ini sudah usia 30an…masyaAllah laa quwwata illa billah.

Kemudian seorang ibu yang selama 20 tahun merasa minder dengan nama yang diberikan orang tua nya. Dia minder dan terus bermain dg fikiran negatifnya sehingga susah tidur dan badan lemes.

Yang kita perlukan adalah kendalikan fikiran dan tetap husnudzon kepada Allah swt. Bahwa Allah Maha Pengasih Maha Penyayang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Berobat dengan Thibbun Nabawi

Haruskah Kita Berobat Dengan Pengobatan
Nabawi?
Tue, 5 August 2
Assalamu ‘alaikum
Saya ingin bertanya terkait dengan
pengobatan nabawi

1. Adakah dalil bahwa Rasulullah SAW
memberi resep obat-obatan tertentu dalam
hidup beliau?

2. Kalau ada, lalu apa hukumnya bagi kita,
apakah kita terikat untuk berobat dengan apa
yang beliau ajarkan.
3. Bolehkah kita tidak menggunakan obat-
obat yang diajarkan oleh beliau SAW?
Terima kasih sebelumnya.
Wasslam

Wassalamu ‘alaikum
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi
wabarakatuh,

A. Riwayat Rasulullah SAW Mengurusi Masalah
Pengobatan
Tidak dapat dipungkiri bahwa di dalam hadits
nabawi banyak disebutkan riwayat tentang
pengobatan di masa Rasulullah SAW. Kadang
hadits berupa saran dari beliau SAW, bahkan
tidak jarang beliau sendiri yang
menggunakannya untuk obat.
Setidaknya lebih dari selusin metode
pengobatan yang disebutkan dalam nash-nash
hadits. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Madu
Cukup banyak hadits Nabi SAW yang
merekomendasikan penggunaan madu untuk
pengobatan, salah satunya adalah hadits
berikut ini :

ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﺸﻔﺎﺀﻳﻦ : ﺍﻟﻌﺴﻞ ﻭﺍﻟﻘﺮﺁﻥ
Gunakanlah dua jenis penyembuh, yaitu madu
dan Al-Quran. (HR. Ibnu Majah dan Al-
Hakim)

2. Bekam
Berbekam juga salah satu metode yang dahulu
pernah digunakan Nabi SAW untuk
mengobati penyakit. Ada banyak hadits
terkait dengan berbekam ini, salah satunya
adalah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dalam haditsnya.

ﺍﺣْﺘَﺠَﻢَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻫُﻮَ ﺻَﺎﺋِﻢٌ
Nabi SAW pernah berbekam dalam keadaan
puasa. (HR. Bukhari)
“Sesungguhnya pengobatan paling utama yang
kalian lakukan adalah hijamah
(berbekam) .”(HR. Bukahri)

3. Kay
Kay adalah teknik pengobatan yang dikenal
di masa Nabi SAW, meskipun caranya yang
sangat menyakiti dan menyiksa badan. Sebab
kay dilakukan dengan menyundutkan bara
besi ke kulit hingga hangus. Namun ada
riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah
SAW merekomendasikan kay sebagai obat
terakhir, asalkan dengan syarat tertentu.
Ibnu Abbas radiallahhuanhu berkata bahwa
Rasulullah SAW bersabda :

ﺍﻟﺸِّﻔَﺎﺀُ ﻓﻲِ ﺛﻠَﺎَﺙٍ : ﺷُﺮْﺑَﺔُ ﻋَﺴَﻞٍ ﻭَﺷُﺮْﺑَﺔُ ﻣُﺤْﺠَﻢٍ ﻭَﻛُﻴُّﻪُ ﻧَﺎﺭٍ
ﻭَﺃُﻧْﻬِﻰ ﺃُﻣّﺘِﻰ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻜَﻲِّ
“Penyembuhan itu ada pada tiga cara: minum
madu, mengeluarkan darah dengan alat bekam
dan kayy (memanaskan besi dengan api lalu
menempelkannya pada bagian tubuh yang
sakit) akan tetapi aku melarang umatku dari
kayy. ” (HR. Bukhari)

4. Air Dingin
Nabi SAW juga pernah meminta agar
menyembuhkan demam dengan
menggunakan air dingin.

ﺍﻟﺤُﻤَﻰ ﻛِﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﻛِﻴْﺮِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻓَﻨْﺤُﻮﻫَﺎ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﺑﺎِﻟﻤﺎَﺀِ ﺍﻟﺒَﺎﺭِﺩ
Dari Nabi SAW, beliau bersabda: Panas demam
itu berasal dari didihan api neraka Jahanam.
Karena itu dinginkanlah derajat panasnya
dengan air! . (HR. Muslim)

5. Air Zam zam
Selain air dingin, Nabi SAW juga
memerintahkan untuk menggunakan air
zamzam sebagai upaya penyembuhan dan
pengobatan.

ﺯَﻣْﺰَﻡُ ﻟِﻤَﺎ ﺷُﺮِﺏَ ﻟَﻪُ
“Air zamzam itu sesuai dengan apa yang
diniatkan peminumnya”.

ﺍﻟﺤُﻤَﻰ ﻣِﻦْ ﻓَﻴْﺢِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻓﺎَﻃﻔِﺌُﻮﻫَﺎ ﻋَﻨْﻜُﻢْ ﺑِﻤﺎَﺀِ ﺯَﻣْﺰَﻡٍ
Demam itu akibat dari panas jahannam,
turunkan panas itu dengan air zam-zam.
Mujahid rahimahullah, salah satu ahli tafsir
dari kalangan tabi’in, berkata,
“Air zamzam sesuai dengan apa yang
diniatkan peminumnya. Jika engkau
meminumnya untuk kesembuhan, maka Allah
akan menyembuhkanmu. Apabila engkau
meminumnya karena kehausan, maka Allah
akan memuaskanmu. Dan apabila engkau
meminumnya karena kelaparan, maka Allah
akan mengenyangkanmu. Ia adalah usaha
Jibril dan pemberian (air minum) Allah kepada
Isma’il”.
Ibnul Qayyim berkata,
“Aku telah mencobanya begitu juga orang lain.
Berobat dengan air zamzam adalah hal yang
menakjubkan. Dan aku sembuh dari berbagai
macam penyakit dengan ijin Allah.

5. Habbah Sauda’
Habbah Sauda’ adalah jintan yang berwarna
hitam. Di masa nabi banyak digunakan orang
untuk menyembuhkan beberapa jenis
penyakit. Dan tercatat di dalam hadits bahwa
Rasulullah SAW merekomendasikan
penggunaannya :

ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺤَﺒَّﺔِ ﺍﻟﺴَّﻮْﺩَﺍﺀِ ﻓَﺈِﻥَّ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺩَﺍﺀٍ
Gunakanlah habbah sauda’, karena benda itu
adalah obat dari segala sesuatu.
Di dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa
Rasulullah SAW bersabda :
“Sungguh dalam habbatus sauda’ itu terdapat
penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam.”
Saya bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau
menjawab, “Kematian”. (HR. Bukhari)

6. Kurma
Selain berfungsi sebagai makanan, di masa
Nabi SAW kurma juga digunakan sebagai
penyembuh penyakit, khususnya kurma ajwa
yang sering disebut dengan kurma Nabi.

ﻣَﻦْ ﺗُﺼْﺒِﺢُ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡٍ ﺑِﺴَﺒْﻊِ ﺗَﻤَﺮَﺍﺕِ ﻋَﺠْﻮَﺓٍ ﻟَﻢْ ﻳَﻀُﺮْﻩُ ﻓﻲِ
ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﻴَﻮْﻡِ ﺳُﻢٌّ ﻭِﻻِ ﺳِﺤْﺮٌ
Dari Saad bin Abi Waqqash radhiyallahuanhu
bahwa Rasulullah SAW bersbda,”Orang yang
tiap pagi makan tujuh butir kurma ajwah,
pada hari itu tidak akan terkena racun atau
pun sihir”. (HR. Bukhari dan Muslim)

ﻋَﻦْ ﺳَﻌْﺪٍ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺮِﺿْﺖُ ﻣَﺮَﺿًﺎ ﺃَﺗَﺎﻧِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻌُﻮﺩُﻧِﻲ
ﻓَﻮَﺿَﻊَ ﻳَﺪَﻩُ ﺑَﻴْﻦَ ﺛَﺪْﻳَﻲَّ ﺣَﺘَّﻰ ﻭَﺟَﺪْﺕُ ﺑَﺮْﺩَﻫَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻓُﺆَﺍﺩِﻱ
ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺇِﻧَّﻚَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣَﻔْﺌُﻮﺩٌ ﺍﺋْﺖِ ﺍﻟْﺤَﺎﺭِﺙَ ﺑْﻦَ ﻛَﻠَﺪَﺓَ ﺃَﺧَﺎ ﺛَﻘِﻴﻒٍ
ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺭَﺟُﻞٌ ﻳَﺘَﻄَﺒَّﺐُ ﻓَﻠْﻴَﺄْﺧُﺬْ ﺳَﺒْﻊَ ﺗَﻤَﺮَﺍﺕٍ ﻣِﻦْ ﻋَﺠْﻮَﺓِ
ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔِ ﻓَﻠْﻴَﺠَﺄْﻫُﻦَّ ﺑِﻨَﻮَﺍﻫُﻦَّ ﺛُﻢَّ ﻟِﻴَﻠُﺪَّﻙَ ﺑِﻬِﻦَ
ّ
“Sa’ad berkata,”Aku sakit dan Rasulullah SAW
menjengukku. Beliau meletakkan tangannya di
antara kedua putingku, sampai-sampai
jantungku merasakan sejuknya tangan beliau.
Kemudian beliau bersabda,”Kamu menderita
penyakit jantung, temuilah Al-Harits bin
Kalidah dari Bani Tsaqif, ia seorang tabib. Dan
hendaknya dia mengambil tujuh buah kurma
ajwah, kemudian ditumbuk beserta biji-bijinya,
kemudian kamu minum. (HR. Abu Daud)

7. Air Kencing dan Susu Unta
Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim
disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah
mengizinkan seorang shahabatnya minum air
kencing unta dan juga susunya sebagai obat
untuk penyembuhan.

ﻗَﺪِﻡَ ﺃُﻧَﺎﺱٌ ﻣِﻦْ ﻋُﻜْﻞٍ ﺃَﻭْ ﻋُﺮَﻳْﻨَﺔَ ﻓَﺎﺟْﺘَﻮَﻭُﺍ ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔَ ﻓَﺄَﻣَﺮَﻫُﻢُ
ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ ﺑِﻠِﻘَﺎﺡٍ ﻭَﺃَﻥْ ﻳَﺸْﺮَﺑُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﻮَﺍﻟِﻬَﺎ ﻭَﺃَﻟْﺒَﺎﻧِﻬَﺎ .
Beberapa orang dari kabilah ‘Ukel dan Urainah
singgah di kota Madinah. Tidak berapa lama
perut mereka menjadi kembung dan bengkak
karena tak tahan dengan cuaca Madinah.
Menyaksikan tamunya mengalami hal itu, Nabi
SAW memerintahkan mereka untuk
mendatangi unta-unta milik Nabi yang
digembalakan di luar kota Madinah, lalu
minum dari air kencing dan susu unta-unta
tersebut. (HR. Bukhari Muslim)

8. Minyak Zaitun
Minyak Zaitun juga termasuk jenis makanan
yang diperintahkan di dalam hadits nabi
SAW :

ﻛُﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺰَّﻳْﺖَ ﻭَﺍﺩْﻫِﻨُﻮﺍ ﺑِﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣِﻦْ ﺷَﺠَﺮَﺓٍ ﻣُﺒَﺎﺭَﻛَﺔٍ
“Makanlah zaitun dan pergunakanlah ia
sebagai minyak, karena sesungguhnya ia
berasal dari pohon yang diberkati. ” (HR. At
Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi)

9. Ruqyah
Sesungguhnya ruqyah bukan sejenis makanan
yang dijadikan obat, melainkan serangkaian
bacaan yang terdiri dari ayat Al-Quran dan
doa-doa yang dibacakan untuk mengusir
setan. Ruqyah sendiri sudah digunakan oleh
para dukun di mas Jahiliyah dengan bantuan
setan dan jin.
Namun Rasulullah SAW mengajarkan ruqyah
yang menggunakan doa dan ayat Al-Quran.

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﺍﻟْﺨُﺪْﺭِﻱِّ ﻗَﺎﻝَ ﻛُﻨَّﺎ ﻓِﻲ ﻣَﺴِﻴﺮٍ ﻟَﻨَﺎ ﻓَﻨَﺰَﻟْﻨَﺎ
ﻓَﺠَﺎﺀَﺕْ ﺟَﺎﺭِﻳَﺔٌ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ ﺇِﻥَّ ﺳَﻴِّﺪَ ﺍﻟْﺤَﻲِّ ﺳَﻠِﻴﻢٌ ‏(ﻟﺬﻳﻎ‏) ﻭَﺇِﻥَّ
ﻧَﻔَﺮَﻧَﺎ ﻏَﻴْﺐٌ ﻓَﻬَﻞْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺭَﺍﻕٍ ﻓَﻘَﺎﻡَ ﻣَﻌَﻬَﺎ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺄْﺑُﻨُﻪُ
ﺑِﺮُﻗْﻴَﺔٍ ﻓَﺮَﻗَﺎﻩُ ﻓَﺒَﺮَﺃَ ﻓَﺄَﻣَﺮَ ﻟَﻪُ ﺑِﺜَﻠَﺎﺛِﻴﻦَ ﺷَﺎﺓً ﻭَﺳَﻘَﺎﻧَﺎ ﻟَﺒَﻨًﺎ ﻓَﻠَﻤَّﺎ
ﺭَﺟَﻊَ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻟَﻪُ ﺃَﻛُﻨْﺖَ ﺗُﺤْﺴِﻦُ ﺭُﻗْﻴَﺔً ﺃَﻭْ ﻛُﻨْﺖَ ﺗَﺮْﻗِﻲ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺎ ﻣَﺎ
ﺭَﻗَﻴْﺖُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺄُﻡِّ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺤْﺪِﺛُﻮﺍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻧَﺄْﺗِﻲَ ﺃَﻭْ
ﻧَﺴْﺄَﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻗَﺪِﻣْﻨَﺎ ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔَ
ﺫَﻛَﺮْﻧَﺎﻩُ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺪْﺭِﻳﻪِ
ﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺭُﻗْﻴَﺔٌ ﺍﻗْﺴِﻤُﻮﺍ ﻭَﺍﺿْﺮِﺑُﻮﺍ ﻟِﻲ ﺑِﺴَﻬْﻢٍ )
Dari Abu Said al-Khudri RA berkata, “ Ketika
kami sedang dalam suatu perjalanan, kami
singgah di suatu tempat. Datanglah seorang
wanita dan berkata, “ Sesungguhnya pemimpin
kami terkena sengatan, sedangkan sebagian
kami tengah pergi. Apakah ada di antara
kalian yang biasa meruqyah?” Maka
bangunlah seorang dari kami yang tidak
diragukan kemampuannya tentang ruqyah.
Dia meruqyah dan sembuh. Kemudian dia
diberi 30 ekor kambing dan kami mengambil
susunya. Ketika peruqyah itu kembali, kami
bertanya, ”Apakah Anda bisa? Apakah Anda
meruqyah?“ Ia berkata, ”Tidak, saya tidak
meruqyah kecuali dengan Al-Fatihah.” Kami
berkata, “Jangan bicarakan apapun kecuali
setelah kita mendatangi atau bertanya pada
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika
sampai di Madinah, kami ceritakan pada nabi
shalallahu ‘alaihi wa sallam Dan beliau
berkata, “ Tidakkah ada yang memberitahunya
bahwa itu adalah ruqyah? Bagilah (kambing
itu) dan beri saya satu bagian.” (HR Bukhari
dan Muslim)

Dari Auf bin Malik al-Asyja’i berkata, ”Dahulu
kami meruqyah di masa jahiliyah, dan kami
bertanya, “ Wahai Rasulullah bagaimana
pendapatmu?” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, ”Perlihatkan padaku ruqyah
kalian. Tidak apa-apa dengan ruqyah jika
tidak mengandung kemusyrikan . ” (HR
Muslim)

10. Dan Lain-lain
Selain hadits-hadits di atas, masih banyak lagi
hadits lain, yang menunjukkan ragam
pengobatan yang dijalankan oleh Rasulullah
SAW. Di antaranya :

a. Talbinah : perasan gandum dimasak seperti
air tajin pada nasi.

b. Itsmid : pengobatan dengan itsmid alias
celak mata

c. Kam’ah : sejenis tumbuhan atau jamur
tanah,

d. Ud Hindi atau Qusthul Bahri yaitu tanaman
obat/akar akaran (famili jahe).

e. Gajih Ekor Kambing : Rasulullah SAW
merekomendasikan gajih ekor kambing
sebagai obat tertentu.

f. Sana dan Sanut : sejenis rumput obat.

g. Utruj : Beliau juga menyarankan memakan
obat berupa utruj (limau),

h. Urz : beras

i. Iidzkir, bittikh (semangka), cuka. labu dan
lainya.

Dan masih banyak lagi makanan yang
direkomendasikan Nabi SAW di masanya
untuk dijadikan sebagai penyembuh atau obat
dari suatu penyakit.

B. Apakah Bernilai Syar’i?
Tidak ada seorang pun yang memungkiri
kebenaran hadits-hadits di atas. Benar sekali
bahwa Rasulullah SAW semasa hidup beliau
banyak menggunakan jenis makanan tertentu
sebagai obat. Atau setidaknya memberikan
semacam rekomendasi dan informasi tentang
makanan apa yang bisa dijadikan penyembuh
dari suatu penyakit.
Namun yang jadi masalah penting adalah :
apakah otomatis kita jadi terikat secara
syariah untuk berobat dengan menggunakan
makanan-makanan yang ada di dalam hadits?
Apakah hukumnya menjadi wajib untuk
dikerjakan oleh kita di masa sekarang ini?
Atau kalau pertanyaannya dibalik, apakah
kita jadi berdosa bila berobat dengan selain
yang disebutkan di atas?
Apakah Rasulullah SAW selain diutus untuk
menjadi nabi juga berperan sebagai dokter
dan apoteker? Dan bagaimana posisi kita
terhadap hadits-hadits yang shahih dimana
Rasululah SAW memberi petunjuk dalam
masalah pengobatan?
Apakah perkataan dan perbuatan Rasulullah
SAW yang seperti menginformasikan atau
memberitahu tentang berbagai jenis penyakit
fisik atau non fisik yang dialami para
shahabat, serta berbagai penjelasan beliau
SAW tentang tata cara mengatasi dan obat-
obatnya itu, merupakan bagian dari syariat
Islam dan bernilai tasyri’?
Ataukah semua itu hanya bagian dari
kecerdasan beliau SAW yang bersifat
manusiawi? Sehingga dimungkinkan untuk
diperbaharui, dikaji, dikritisi dan juga bisa
kurang sesuai dengan zaman dan tempat?
Dengan kata lain yang lebih sederhana,
adakah metode pengobatan dengan metode
Nabi SAW? Kalau memang ada, lalu apakah
hukumnya bagi umat Islam? Apakah umat
Islam di seluruh dunia wajib untuk
menjalankan semua bentuk praktek
pengobatan dengan menggunakan metode-
metode itu? Apoakah hukumnya menjadi
wajib, ataukah sunnah? Atau boleh dipakai
sebagai alternatif, tetapi kalau tidak cocok
boleh juga ditinggalkan?
Para ulama sepanjang zaman telah berbeda
pendapat dalam masalah ini. Sebagian dari
mereka tegas meyakini adanya tibbun
nabawi, dan bahwa Rasulullah SAW selain
punya misi untuk membawa risalah ukhrawi,
beliau juga diyakini bertugas untuk
mengajarkan ilmu pengobatan dan kesehatan.
Sementara sebagian ulama lainnya justru
meyakini kebalikannya, yaitu bahwa tidak
ada istilah tibbun nabawi. Dalam pandangan
mereka, misi Rasulullah SAW tidak termasuk
di dalamnya mengajar ilmu pengobatan.

C. Hujjah Para Pendukung
Ada banyak kalangan yang mendukung
keberadaan pengobatan ala Nabi SAW ini.
1. Perkataan Beliau SAW adalah Wahyu
Beliau tidak mungkin berucap satu patah
katapun, kecuali semua atas kehendak Allah
SWT. Dan tentunya merupakan wahyu dari
Allah SWT juga. Hal itu seusai dengan firman
Allah SWT :
ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨﻄِﻖُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻬَﻮَﻯ ﺇِﻥْ ﻫُﻮَ ﺇِﻻَّّ ﻭَﺣْﻲٌ ﻳُﻮﺣَﻰ ﻋَﻠَّﻤَﻪُ ﺷَﺪِﻳﺪُ
ﺍﻟْﻘُﻮَﻯ
Dan (muhammad itu) tidaklah berbicara
menurut kemauan hawa nafsunya. Yang dia
ucapkan itu tidak lain adalah wahyu yang
diajarkan oleh Allah Yang Maha Kuat (QS. An-
Najm : 3)
Karena itulah maka apa pun yang kita dengar
dan kita lihat dari diri Rasulullah SAW,
semuanya merupakan petunjuk wahyu.
2. Kewajiban Melaksanakan Perintah Rasulullah
SAW
Oleh karena semua perkataan dan perbuatan
beliau SAW adalah wahtu, maka kita wajib
menjadikan semua perbuatan dan perkataan
beliau sebagai bagian dari syariat Islam. Dan
semuanya mengikat diri kita.
Dasarnya adalah firman Allah SWT :
ﻭَﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻓَﺨُﺬُﻭﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎﻧﺘَﻬُﻮﺍ
Apa yang diberikan Rasul maka ambillah dan
apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah
(QS. Al-Hasyr: 7)
3. Keberkahan
Diri Rasulullah SAW adalah keberkahan,
sehingga apa pun yang beliau lakukan dan
katakan, tidak lepas dari keberkahan itu.
Termasuk para shahabat selalu berpikir untuk
bisa mencium tubuh Rasulullah SAW, seperti
yang dialami oleh Ukasyah.
Dia adalah shahabat Nabi SAW dengan cerdas
sempat mencium langsung tubuh beliau SAW
yang bertelanjang dada. Alasannya, untuk
membalas perbuatan nabi SAW yang katanya
pernah mencambuknya. Dan saat itu Ukasyah
mengaku sedang tidak memakai pakaian.
Tatkala Nabi SAW telah membuka bajunya
siap untuk menerima pembalasan atas
cambukan Ukasyah, dengan serta merta
Ukasyah memeluk dan menciumi tubuh beliau
SAW.
Hasilnya, beliau dijamin masuk surga oleh
Rasulullah SAW, ketika shahabat yang lain iri
melihat apa yang diterima Ukasyah dan
meminta Rasulullah SAW menjaminkan surga
untuknya, beliau SAW menjawab,
ﺳَﺒَﻘَﻚَ ﻋُﻜَﺎﺷَﺔ
“Ukasyah sudah mendahuluimu”.
Kalau menciumi tubuh Nabi SAW
mendapatkan keberkahan dijamin masuk
surga, maka mengikuti langkah-langkah nabi
SAW dalam pengobatan tentunya juga akan
mendapatkan keberkahan.
D. Hujjah Yang Tidak Mendukung
Mereka yang tidak mendukung masyru’iyah
pengobatan nabawi ini bukan berarti
menolak hadits-hadits shahih di atas. Yang
mereka tolak adalah kalau semua itu
dikaitkan dengan wahyu, apalagi dengan
hukum yang bersifat mengikat menjadi wajib.
1. Rasulullah SAW Manusia Biasa
Meski pun Rasulullah SAW seorang nabi yang
mendapat wahyu dari langit, namun dimensi
kemanusiaan beliau tetap melekat, sehingga
kadang beliau sedih, marah, gembira, tertawa
bahkan melucu dan lainnya. Beliau juga
makan, minum, berjalan di pasar, menikahi
wanita dan seterusnya, layaknya seorang
manusia.
Dimensi kemanusiaan beliau SAW tidak bisa
dinafikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal
itu ditegaskan di dalam Al-Quran Al-Kariem.
ﻗُﻞْ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺑَﺸَﺮٌ ﻣِّﺜْﻠُﻜُﻢْ ﻳُﻮﺣَﻰ ﺇِﻟَﻲَّ
Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia
biasa seperti kamu, yang diwahyukan
kepadaku.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Khususnya ketika Nabi SAW
merekomendasikan obat tertentu, menurut
mereka datangnya informasi ini bukan lewat
wahyu, tetap semata-mata berdasarkan
kecerdasan dan pengalaman hidup beliau
semata.
Oleh karena itu tidak wajib diikuti, karena
selain kebenarannya tidak mutlak, juga ada
fakta bahwa penyakit itu berkembangan, dan
obat-obatan mengalami perkembangan juga.
Obat penyakit tertentu yang di masa lalu
mujarab dan tokcer, belum tentu cocok
dengan kondisi penyakit di masa sekarang.
2. Nabi SAW Pernah Keliru Tanpa Wahyu
Dalam sirah nabawiyah kita menemukan
beberapa kali Rasulullah SAW bertindak tidak
berdasarkan wahyu, tetapi semata-mata
berlatar belakang logika dan pendapat
subjektif beliau SAW. Hal itu dibolehkan,
selama memang tidak ada wahyu atau tidak
bertentangan dengan wahyu.
Ketika Rasulullah SAW dalam para shahabat
tiba di wilayah Badar, sebagai panglima
pasukan muslim beliau memilih suatu tempat
sebagai basecamp pasukan.
Namun seorang shahabat yang cukup
berpengalaman dalam peperangan dan
kebetulan berada diantara yang ikut dalam
perang Badar itu, Al-Hujab Ibnul Mundzir
radhiyallahuanhu, menilai bahwa posisi
tersebut kurang menguntungkan. Maka dia
pun bertanya :
ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﻨْﺰِﻝٌ ﺃَﻧْﺰَﻟَﻜَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟﻰَ ﻻَ ﺗَﺘَﻘَﺪَّﻣَﻪُ ﻭَﻻَ
ﺗَﺘَﺄَﺧَّﺮَ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻡْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺃْﻱُ ﻭَﺍﻟﺤَﺮْﺏُ ﻭَﺍﻟﻤَﻜِﻴْﺪَﺓ؟
Ya Rasulallah, apakah tempat ini adalah
tempat yang Allah SWT tetapkan untuk Anda,
dimana Anda tidak bisa maju atau mundur
lagi, ataukah posisi ini hanyalah sebuah
pendapat, peperangan dan tipu daya?
ﺑَﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺃْﻱُ ﻭَﺍﻟﺤَﺮْﺏُ ﻭَﺍﻟﻤَﻜِﻴْﺪَﺓ
Posisi ini hanya sebuah pendapat, bagian dari
siasat perang.
Maka Rasulullah SAW mendengarkan dan
menjalan ide dan siasat dari Al-Hujab yang
cukup beralasan, yaitu mengambil posisi yang
dapat memotong jalur akses air minum
pasukan Quraisy dari sumur-sumuber Badar.
Dengan cara itu, pasukan lawan akan runtuh
sebelum bertempur, karena kehabisan air
minum yang sangat vital untuk bisa hidup
bertahan di tengah padang pasir. Siasat itu
ternyata berhasil dan pasukan muslimin
mendapat kemenangan besar dalam perang
Badar ini.
Peristiwa ini membuktikan bahwa tidak
selamanya Rasulullah SAW bertindak
berdasarkan wahyu yang turun dari langit.
Terkadang beliau juga menggunakan akal dan
logika pribadi, dan ketika hal itu terjadi,
dimungkin bahwa hasilnya kurang akurat. Ide
Al-Hujab itu membuktikan bahwa Rasulullah
SAW mengakui bahwa hasil pemikiran
pribadinya masih bisa dikritisi oleh orang
lain.
3. Tawanan Perang Badar
Rasulullah pernah salah ketika berijthad
masalah tawanan perang Badar. Dalam syura
beliau lebih cenderung kepada pendapat Abu
Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu yang
ingin membebaskan para tawanan, lantaran
mereka masih kerabat dan keluarga.
Sementara Umar bin Al-Khattab
radhiyallahuanhu cenderung untuk tidak
memberi kasihan kepada para pemuka Qurais
ini, yang selama ini memang nyata-nyata
menunjukkan permusuhan. Bagi Umar
mereka semua harus dibunuh saja.
Rasulullah SAW cenderung tidak menerima
pendapat Umar bin Al-Khattab. bahwa
tawanan itu harus dibunuh. Lalu Allah SWT
menegur beliau dalam surat Al-Anfal.
ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻨَﺒِﻲٍّ ﺃَﻥ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻪُ ﺃَﺳْﺮَﻯ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺜْﺨِﻦَ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ
ﺗُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﻋَﺮَﺽَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟﻠّﻪُ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺍﻵﺧِﺮَﺓَ ﻭَﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﺰِﻳﺰٌ
ﺣَﻜِﻴﻢٌ
Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai
tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan
musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki
harta benda duniawiyah sedangkan Allah
menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Anfal: 67)
Akhirnya beliau sadar bahwa ijtihadnya salah
dan membenarkan pendapat shahabatnya,
Umar bin Al-Khattab ra. Sehingga beliau
sampai berkata bahwa seandainya dari langit
turun azab, pastilah tidak ada yang selamat
kecuali hanya satu orang, yaitu Umar bin Al-
Khattab ra. Sebab pendapat beliau saja yang
dibenarkan Allah SWT.
4. Penyerbukan Bunga Kurma
Rasulullah SAW pernah menolak talqih
(penyerbukan pohon kurma) di Madinah
sehingga mengakibatkan gagal panen.
ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻣَﺮَّ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻳُﻠَﻘِّﺤُﻮﻥَ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻟَﻮْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻟَﺼَﻠُﺢَ .
ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﺨَﺮَﺝَ ﺷِﻴﺼًﺎ ﻓَﻤَﺮَّ ﺑِﻬِﻢْ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻟِﻨَﺨْﻠِﻜُﻢْ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ :
ﻗُﻠْﺖَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍﺯ ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺩُﻧْﻴَﺎﻛُﻢْ
Nabi SAW melalui beberapa orang yang sedang
melakukan penyerbukan kurma, beliau
shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan,
“Kalaulah kalian tidak melakukan hal yang
demikian maka hasilnya akan baik”. (Para
sahabat mengikuti perkataan beliau) kemudian
hasil kurmanya jelek. Nabi SAW melalui
mereka lagi dan berktanya, “Mana kurma
kalian?” mereka mengatakan, “Anda katakan
demikian dan demikian (agar tidak
menyerbukan kurma)” Kemudian beliau SAW
bersbda, “Kalian lebih paham berilmu tentang
urusan dunia kalian.
Ternyata sebagai orang yang lahir dan
dibesarkan di Makkah yang memang tidak
ada tumbuhan, pengetahuan dan wawasan
Rasulullah SAW kalah dengan pengetahuan
orang Madinah yang memang sangat ahli
dalam bercocok tanam. Ketika Rasulullah
SAW berpendapat tidak perlu melakukan
talqih, ternyata para shahabat mengira itu
datang dari wahyu.
5. Bukan Disambut Malah Disambit
Tatkala Abu Thalib dan Khadijah
radhiyallahuanhu wafat di tahun duka cita,
Rasulullah SAW sudah tidak lagi memiliki
orang yang melindunginya di Mekkah. Maka
beliau mulai berpikir untuk hijrah ke luar
Mekkah, menuju Thaif. Dalam perkiraan
beliau, Thaif akan dengan hangat
menyambutnya. Namun kenyataannya, beliau
bukan disambut tapi malah disambit.
Padahal pilihan Thaif sebagai tujuan hijrah
beliau diperkirakan akan mulus serta akan
mendapakatkan daerah dakwah yang baru.
Tapi nyatanya, malah beliau berdarah-darah
dan lari tunggang-langgang meninggalkan
kota itu.
Ini menunjukkan bahwa sekali lagi
perhitungan strategis beliau meleset jauh dari
perkiraan sebelumnya. Dan ini fakta yang
tidak bisa dipungkiri. Kalau beliau 100%
tidak pernah salah, seharusnya tidak perlu
ada kejadian seperti ini. Sampai-sampai
beliau bermunajat kepada Allah SWT dengan
lafadz doa yang panjang, sambil bermohon
pertolongan.
6. Mengizinkan Munafikin Bolos Perang
Rasulullah SAW juga pernah salah dalam
berijtihad, ketika tidak melakukan tabayyun
(pengecekan) terhadap alasan orang-orang
munafiqin yang tidak ikut dalam perang
Tabuk. Beliau secara gampang begitu saja
memberi izin kepada mereka.
Sehingga Allah SWT akhirnya menegurnya
atas kemudahan yang beliau berikan, meski
pun juga sambil memberi maaf kepadanya
dengan firman-Nya:
ﻋَﻔَﺎ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻨﻚَ ﻟِﻢَ ﺃَﺫِﻧﺖَ ﻟَﻬُﻢْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﺒَﻴَّﻦَ ﻟَﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ
ﺻَﺪَﻗُﻮﺍْ ﻭَﺗَﻌْﻠَﻢَ ﺍﻟْﻜَﺎﺫِﺑِﻴﻦَ
Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu
memberi izin kepada mereka, sebelum jelas
bagimu orang-orang yang benar dan sebelum
kamu ketahui orang-orang yang berdusta? (QS
At-Taubah: 43)
7. Bermuka Masam
Rasulullah SAW pernah ditegur Allah SWT
karena bermuka masam tatkala seorang buta,
Abdullah bin Ummi Maktum rahiyallahuanhu,
mendatanginya untuk masuk Islam dan
diajarkan hal-hal yang terkait dengan agama.
Sikap yang kurang etis itu cukup manusia bila
dilakukan oleh seorang Muhammad SAW,
mengingat saat itu beliau sedang disibukkan
untuk mengurusi para pembesar Quraisy.
Sebenarnya Abdullah bin Ummi Maktum
tidak sampai diusir atau dihardik saat itu,
Rasululah SAW hanya menunjukkan wajah
masam yang agak kurang mengenakkan saja.
Namun demikian, teguran dari Allah SWT
atas perbuatan yang sebenarnya sangat
manusiawi itu lumayan tegas, bahkan
menjadi abadi sepanjang zaman sampai
datangnya hari kiamat. Karena ternyata Allah
SWT menegurnya dalam format ayat Al-
Quran, yang tentunya akan dibaca terus-
menerus oleh umat Islam sepanjang zaman.
ﻋَﺒَﺲَ ﻭَﺗَﻮَﻟَّﻰ ﺃَﻥ ﺟَﺎﺀﻩُ ﺍﻷَﻋْﻤَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﺪْﺭِﻳﻚَ ﻟَﻌَﻠَّﻪُ ﻳَﺰَّﻛَّﻰ ﺃَﻭْ
ﻳَﺬَّﻛَّﺮُ ﻓَﺘَﻨﻔَﻌَﻪُ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَﻯ ﺃَﻣَّﺎ ﻣَﻦِ ﺍﺳْﺘَﻐْﻨَﻰ ﻓَﺄَﻧﺖَ ﻟَﻪُ ﺗَﺼَﺪَّﻯ
ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺃَﻻَّ ﻳَﺰَّﻛَّﻰ ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻣَﻦ ﺟَﺎﺀﻙَ ﻳَﺴْﻌَﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﺨْﺸَﻰ
ﻓَﺄَﻧﺖَ ﻋَﻨْﻪُ ﺗَﻠَﻬَّﻰ
Dia (Muhammad) bermuka masam dan
berpaling, karena telah datang seorang buta
kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin
membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia
(ingin) mendapatkan pengajaran, lalu
pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
Adapun orang yang merasa dirinya serba
cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak
ada (celaan) atasmu kalau dia tidak
membersihkan diri (beriman). Dan adapun
orang yang datang kepadamu dengan
bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu
mengabaikannya. (QS. Abasa : 1-10)
E. Kesimpulan

Memang tidak mudah menyatukan kedua
aliran di atas, sebab masing-masing merasa
hanya pendapatnya saja yang benar.
Sedangkan pendapat lainnya akan selalu
dianggap salah dan keliru.

Agar tidak terlalu bingung, maka kami
memberikan beberapa saran yang boleh
dijadikan bahan pertimbangan dalam
bersikap. Namun ini hanya saran dan bukan
keharusan, sebab biar bagaimana pun kita
tetap wajib saling menghormati pendapat
yang berkembang, selama datang dari para
ulama yang punya kompetensi di dalamnya.

1. Tidak mengingkari adanya pengobatan
Nabi SAW, selama haditsnya shahih dan bisa
diterima.

2. Ada pesan khusus di balik tiap jenis obat
yang disebutkan beliau SAW, sebagai bagian
dari bahan eksperimen untuk zaman kita.

3. Tidak semua jenis obat yang ada di hadits
Nabi SAW itu cocok untuk setiap tempat dan
lingkungan. Bahkan belum tentu cocok untuk
para shahabat yang hidup di masa itu.
4. Maka hukumnya bukan merupakan
kewajiban yang bersifat mutlak untuk
menggunakan obat-obatan sesuai hadits Nabi
SAW.

5. Kalau pun menggunakan obat-obatan yang
disebutkan dalam hadits, tetap harus dengan
lewat orang yang ahli (dokter). Sebab jumlah
jenis penyakit itu sangat beragam, dan tiap
satu penyakit ada pecahan-pecahannya lagi.
Dan tiap detail penyakit harus diobati sesuai
dengan jenis penyakitnya dengan dosis dan
takaran yang pas.

6. Obat-obat yang banyak beredar di masa
sekarang banyak yang diklaim sebagai obat
dari nabi. Namun dalam prakteknya, semua
hanya klaim dan tidak ada yang 100%
memastikan keasliannya.

7. Selain itu kita tetap harus tetap hati-hati
dalam memilihinya. Periksa dulu kadarnya,
kandungan, zat-zat tambahan, campuran,
cara pengolahan, pengemasan, dosis, serta
tanggal kadaluarsanya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu
‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc., MA

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hadits Bekam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

HADIST TENTANG BEKAM

Nabi Muhammad saw adalah suri tauladan yang terbaik bagi umat manusia. Beliau menerima wahyu dari Allah SWT melalui perantara malaikat Jibril. Islam datang kemuka bumi dengan membawa rahmat dan solusi bagi seluruh alam. Mengenai kesehatan Islampun sudah membahasnya yaitu pengobatan Thibbun Nabawi yaitu pengobatan dengan menggunakan metode nabawi diantaranya adalah dengan bekam. Hadits tentang bekam telah banyak dimuat dibuku-buku Islam terutama yang membahas tentang kesehatan Islami/

~Hadist Shahih Tentang Bekam :

    Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah aku melewati satu dari langit-langit yang ada melainkan para malaikat mengatakan:
‘Hai Muhammad, perintahkan ummatmu untuk berbekam, karena sebaik-baik sarana yang kalian pergunakan untuk berobat adalah bekam, al-kist, dan syuniz semacam tumbuh-tumbuhan’.”
(Kitab Kasyful Astaar ‘an Zawaa-idil Bazar, karya al-Haitsami, III/388)

    Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda: “Kalian harus berbekam dan menggunakan al-qusthul bahri.”
(Hadits Shahih Bukhari, Muslim, Ahmad, dan an-Nasai dalam kitab as-Sunan al-Kubra no. 7581).

    Dari Jabir al-Muqni RA, dia bercerita: “Aku tidak akan merasa sehat sehingga berbekam, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya pada bekam itu terdapat kesembuhan’.”
(Hadits Shahih Ibnu Hibban (III/440))

    ~Hadis Hadist Tentang Terapi Bekam Hijamah

    Dari Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata: “Rasulullah SAW pernah menyampaikan sebuah hadits tentang malam dimana beliau diperjalankan bahwa beliau tidak melewati sejumlah malaikat melainkan mereka semua menyuruh beliau SAW dengan mengatakan: ‘Perintahkanlah umatmu untuk berbekam’.”
(Shahih Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albani (II/20), hasan gharib).

    Dari Anas RA, dia bercerita: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Jika terjadi panas memuncak, maka netralkanlah dengan bekam sehingga tidak terjadi hipertensi pada salah seorang diantara kalian yang akan membunuhnya’.”
(Hadis diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, dari Anas RA secara marfu’, beliau mensyahihkannya yang diakui pula oleh adz-Dzahabi (IV/212))

    Kesembuhan bisa diperoleh dengan 3 cara yaitu: sayatan pisau bekam, tegukan madu, sundutan api. Namun aku tidak menyukai berobat dengan sundutan api
( Hadits Shahih Muslim).

    Pada malam aku di-isra’kan, aku tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka berkata: “Wahai Muhammad suruhlah umatmu melakukan bekam.”
(Hadist Riwayat Sunan Abu Daud, Ibnu Majah, Shahih Jami’us Shaghir 2/731)

HADITS TENTANG BEKAM -
Hadis Hadist Tentang Terapi Bekam Hijamah

    Penyembuhan terdapat dalam tiga hal, yakni meminum madu, sayatan alat bekam, dan sundutan dengan api. Dan aku melarang umatku berobat dengan sundutan api.
(HR. Bukhori)

    Dari Ibnu ‘Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah aku berjalan melewati segolongan malaikat pada malam aku diisra’kan, melainkan mereka semua mengatakan kepadaku: ‘Wahai Muhammad, engkau harus berbekam’.”
(Shahih Sunan Ibnu Majah, Syaikh al-Albani (II/259))

    Dari Ibnu Abbas RA, Nabi SAW bersabda: “Orang yang paling baik adalah seorang tukang bekam (Al Hajjam) karena ia mengeluarkan darah kotor, meringankan otot kaku dan mempertajam pandangan mata orang yang dibekamnya.”
(Hadits Sohih. Tirmidzi, hasan gharib).

HADIS TENTANG BEKAM
    Dari Uqbah bin Amir RA, Rasulullah SAW bersabda: ” Ada 3 hal yang jika pada sesuatu ada kesembuhan, maka kesembuhan itu ada pada sayatan alat bekam atau minum madu atau membakar bagian yang sakit. Dan aku membenci pembakaran (sundutan api) dan tidak juga menyukainya.”
(Hadits Shahih Ahmad dalam Musnad-nya)

    Jika pada sesuatu yang kalian pergunakan untuk berobat itu terdapat kebaikan, maka hal itu adalah berbekam
(Hadits Shohih Sunan Ibnu Majah, karya Syaikh Al-Albani (II/259), Shahih Sunan Abu Dawud, karya Syaikh Al-Albani (II/731)).

    Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya pada bekam itu terkandung kesembuhan.”
(Kitab Mukhtashar Muslim (no. 1480), Shahihul Jaami’ (no. 2128) dan Silsilah al-Hadiits ash-Shahiihah (no. 864), karya Imam al-Albani)

    Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Jika ada suatu kesembuhan pada obat-obat kalian maka hal itu ada pada sayatan alat bekam.” Beliau bersabda: “Atau tegukkan madu.”
(Kitab Kasyful Astaar ‘an Zawaa-idil Bazar,karya al-Haitsami, III/388)

     “Sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah al hijamah”
(Hadits Shaoheh Ahmad, shahih).

    Dari Ashim bin Umar bin Qatadah RA, dia memberitahukan bahwa Jabir bin Abdullah RA pernah menjenguk al-Muqni’ RA, dia bercerita: “Aku tidak sembuh sehingga aku berbekam, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya didalamnya terkandung kesembuhan’.” (Hadits Shaheh. Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Ya’la, al-Hakim, al-Baihaqi)

    Sesungguhnya cara pengobatan paling ideal yang kalian pergunakan adalah hijamah (bekam)
(Muttafaq ‘alaihi, Hadits Shohih Bukhari (no. 2280) dan Hadits bekam Shahih Muslim (no. 2214)

_____________________________________________________

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,
(QS: Asy-Syu’araa Ayat: 80)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bila PH tubuh rendah

image

Biasanya orang sakit ph nya dibawah normal…lebih baik konsumsi makanan atau air dg kadar ph lebih tinggi untuk proses penyembuhan. Lihat diagram diatas. Sumber gambar dari web total8+.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

QRMA test

image

QRMA (Quantum Resonance
Magnetic Analyser)
QRMA is a very simple, fast and accurate tool used to
determine the health status of the major body systems,
organs and glands. The client simply holds a sensor
device in one hand for 1 minute and the QRMA gathers
the electromagnetic signals from the body for
analysis. When any sub-health or disease conditions
are present, the emitted electromagnetic signals are
different. The quantum resonant magnetic analyser is
designed to detect and analyse these signals.

The QRMA delivers 38 individual reports, including a
comprehensive report that highlights the most
important areas of health concerns.
Cardio- and Cerebrovascular
Gastrointestinal Function
Liver Function
Large IntestineGallbladder Function
Pancreatic Function
Kidney Function
Lung Function
Brain Nerve
Bone Disease
Rheumatoid Bone Disease
Bone Growth Index
Blood Sugar
Trace Element
Vitamin
Amino Acid
Co-enzyme
Endocrine System
Immune System
Human Toxins & radiation
Heavy Metal
Basic Physical Quality
Allergy
Obesity
Skin
Eye
Collagen
Channels and collaterals
Pulse of heart and brain
Blood lipids
Gynaecology
Breast
Menstrual cycle
Prostate
Male Sexual Function
Sperm and semen
Element of Human
Comprehensive Report

This technology was created over many years and
tested on millions of case studies. It has an accuracy
rate of over 85% and is used by many primary health
care professionals world-wide.
The QRMA is not a diagnostic tool, but rather allows us
to make recommendations for prevention of dis-ease.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

QRMA

image

Dengan alat ini kita bisa tahu kondisi kesehatan kita dan antisipasi penyakit kedepan bisa dicegah. InsyaAllah.

Periksa kesehatan : Rp. 50.000,- (promosi dari Rp. 150.000,-)

Mau beli alatnya juga bisa (baru non garansi) Made in China
Rp. 2.000.000,-

Siap kirim ke seluruh nusantara
Masih bahasa Inggris
Cek 34 item.

Silahkan hub bagian pemasaran kami ; Mr. Aping 0812 1358 3330

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Analisa Kesehatan dengan QRMA

Sekarang makin canggih

Hanya dengan waktu satu menit

Biaya yg relatif terjangkau

Kita bisa tahu kondisi kesehatan tubuh kita

Dengan alat: Quantum Resonance Magnetic Analyzer.

Anda bisa tahu kondisi saat ini untuk antisipasi kondisi selanjutnya.

Liver, jantung, pencernaan, vitamin,

 

mineral dan kondisi tubuh meliputi 34 item

yg di analisa.

 

Biaya hanya Rp. 50.000,- (promosi dari Rp. 150.000)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

JURIG SESA NYALEG

Jurig Sésa Nyaleg
Ku Usép Romli HM

Di lembur Legoktéoh, ujug-ujugréa
jurig.Mindeng nu kawénéhan. Aya nu
bungkeuleukan. Aya nu ukur ringkang ngolébat
kawas kalangkang. Atawa ukur sora nu aranéh
pikeun dédéngéan urang dinya.

Tong boro peuting, beurang ogé kawas
ngahajakeun narémbongan.
Ĕrik,murid SMK, nyobaan hénpon anyar. Putrat-
potrét sabudeureun imahna. Motrétkembang,
manuk, balong, jeung sajabana nu katénjo. Ari
diilikan gambarna, bet aya baémahluk jangkung,
jambrong. Pikasieuneun Keur nangkeup pot
kembang. Keur nyekel manuk. Keur ngeueum
dina balong.
Atuh guyur. Komo sanggeus éta potret
ditatalépakeun ka babaturanana nu sarua
baroga henpon, maké blutut. Leuwih guyur
batan potrét atawa vidéo adegan porno budak
sakola.
Nu matak ngageumpeurkeun, Ma Onah.

Kapanggih ngajehjer kapaéhan deukeut tampian
cinyusu. Meunang dua poé selang-seling. Inget,
gurubug, birigidig. Les deui kapaéhan. Poé
katilu karék eling bener. Teu ditanya gé,
barabat medar téténjoananana nu matak
muringkak bulu punduk.
“Rék turun pisan kana tétécéan, ti jero tampian
norojol mahlukteu puguh rupa. Diharudum boéh
emblog-emblogangetih. Leumpang aclog-
aclogan. Teuing ka mana léosna, apan ema
kaburu teuinget nanaon, “Ma Onah norowéco.
Tilu poé ti harita, Mang Onon balik nyaba
kapeutingan. Lumpat tipaparétot. Jedak
neunggar portal. Koréjat hudang.

Rumanggieung muru imahna. Barang sup,
langsung muriang panas tiris. Ku pamajikanana
diasongan citéh panas. Meunang dua tilu
suruput, kakakarek rada tenang.
“Ku naon bapana, sok ngareureuwas,”cék
pamajikanana.

“Ih lain ngareureuwas, “sora Mang Onon
ngageter.”Ĕta barang mengkol ka jalan lembur,
aya nu nyewol kana punduk. Dirérét, aya nu
gugulayunan dina gapura. Nyengir
nembongkeun huntu ranggéténg. Kawas rék
ngokos. Untung kaduga kénéh ngabecir. Ngan
tarang bancunur kana portal.

Ngarieus cikur
jeung béas ketan saeutik, geura,keur malur
”Mang Onon ngarampaan urut tidagor tadi.
“Ketan di mana horéng” tembal pamajikanana.
“Cikur mah aya sugan, ké urang ngoréhan dina
pabétékan.”
“Ngéclok ka Bi Omah geura, sacangkir mah.”
“Saha nu inditna ka ditu?”
“Nya manéh atuh. Saha deui ? Da barudak mah
moal ludeungeun. Jaba geus sararé,lin?”
“Ih, uing gé moal ludeung. Mangkaning
ngaliwatan dapuran cau……iyyyyy,”pamajikan
Mang Onon bibirigidigan.
Kaayaan beuki harénghéng. Anéh. Sauduna ari
geus bérés pemilu mah, bérés nyolok, kudu
tenang. Kudu sepi jempling. Tiis ceuli herang
mata. Sabada euyak-euyakan kampanye.
Tingalabring ka ditu ka dieu. Malah aya nu
gelut sagala. Urang RW 3 jeungRW 6. Keur
jarogéd cenah, sili séréd hayang deukeut ka
biduan nu maké erok pungsat nengahan
pingping, lebah dada lahak.

Dér sili tonjok dina
panggung. Padahal masih kénéh sapartéy. Mani
hésé dipisah ku satgas téh. Untung teu
katutuluyan. Geus dibéré nginum téh botol
jeung ngadahar kuéh snék dua keureut séwang
mah, akur deui. Bareng deui jogéd kawas tadi.
Malah barang dibagi amplop sarérés acara, sili
akurkeun eusina. Tétéla sarua. Limarébuan
salambar, rada kucel.
“Teu ngarti pemilu ayeuna mah,”Jumarna,
kekentong pamuda nu ngaku golput,gogodeg.
“Asa riweuh teu puguh. Boh méméhna boh
enggeusna. Nu matak uing golput ogé, geus
apal pikieueun.”
“Heueuh, tuh runtah bayatak di mamana. Acan
jurig nyiluwuri,”Dodi tukang ojég ngahaénan.

“Ari jurig mah pantes, da kandangna geus réa
digadabah,”Ucéng, pagawé honorérdesa nu
geussawelas taun can diangkat-angkat jadi
PNS,némbrong. Tuh, pasir hulu cai Cimedi, geus
dilelemah. Rék dijieun perumahan. Meureun
jurigna kasingkirkeun. Apan ti baheula gé
kasohor Cimedi téh kandang jurig. Sanget.
Sakur nu ngaliwat ka dinya, matak kabadi. Kari-
kari ayeuna direbut ku manusa. Nya tangtu
jurigna buriak ka mamana. Kaasup ka lembur
urang.”

Nu ngobrol ngaharuleng. Mikiran kaayaan
lingkungan lembur, lingkungan désa, lingkungan
kacamatan jeung kabupatén, nu geus robah
kabina-bina. Hulu cinyusu, sataun ka tukang
aya kana tujuhna, ayeuna mah tinggal hiji gé
entét-entétan. Sabab kakayon sabudeureunana,
béak dibukbak. Leuweung pangalaan suluh di
Pasir Gunting, taya tapak-tapakna. Lantaran
ayeuna tanahna diséngkéd-séngkéd. Dikapling-
kapling. Dipake perumahan méewah, geus aya
kana tilu taunna. Ayeuna maju ka Cimedi,
huluwotan ciséké nu ngocorkeun cai ka
wahangan Cipicung, mimiti digadabah.

“Saprak Kadés nu ayeuna, tanah maceuh
dibukaan. Sakeudeung deui sawah sisi jalan
raya, aya nu ngaduitan. Keur lahan ruko cenah.
Idinna geus kaluar,”cék Ucéng.

“Heueuh, Kadés téh kabéjakeun osog kana
ngojok-ngojok rayat ngajualan tanah. Kudu
didémo sugan, “Jumarna neunggeul-neunggeul
peureup katuhu kana dampal leungeun kenca.
“Gedékénéh hasil tina ngamakelar tanah tibatan
pangasilan resmi kades,pasti”Dodi neuteup ka
Ucéng. Nu diteuteup unggeuk, ngaenyakeun.
Apaleun pisan da sapopoéapan idekliher di
désa.
Nu keur ngawarangkong,tiluanana uleng mikiran
kaayaan nu lain ngaalusan.

Tapi beuki
ngagoréngan. Sawah léndo béak digilirkeun
kana adegan. Tanah pakebonan sarua
digangsir. Usum hujan, bruhbrah longsor.

Cileuncang bahé monténg. Ngeueum
pilemburan. Usum halodo ngabetrak garing. Cai
saraat. Cikujang, wahangan badag gé
kabawakeun ngolétrak.
“Anéhna, usum kampanye kamari, taya saurang
ogé caleg nu inget kana kaayaan kitu. Taya
saurang ogé nu mdar rencana ngoméan
lingkungan. Mulangkeun, minimal nyegah,
sawah digunasika. Hih, ieu mah ngan akan,
akan, akan…ngabibita ku lapangan gawé,
pangasilan gedé…Haram jadah
wungkul !”Jumarna kekerot. Ninggang-ningga
ng deui peureup katuhu kana dampal leungeun
kénca. Manéhna nu kabéjakeun kungsi aktip
dina kagiatan LSM Héjo Lémbok, sahanteuna
engeuh.
“Wuah, di mana caleg inget ka nu dipikiran ku
ilaing, Na !”Dodi nyengir.”Ingetna kana korsi wé
nu can karuhan kana kapimilik.”
“Jeung inget ka rumah sakit jiwa, béjana,
“Ucéng sarua nyengir. Nyeungseurikeun nu lain
pikaseurieun.

Lain waé nu tiluan cikénéh, nu ngaromongkun
pemilu jeungcaleg katut balukarna ayeuna.
Pangpangna nu patali jeung mahabuna jurig
nyiliwuri, sétan marakayangan. Sawatara urang
lembur, badami, pikeun masrahkeun pasualan
ka pamaréntah. Utamana pamaréntah désa.
Bring Ketua RW, jeung dua tilu urang tokoh
masarakat, ka balédesa.Nepungan Kadés. Geus
jonghok ,Ketua RW medar pamaksudan.

Minangsaraya ka Kadés sangkan ngungkulan
kaayaan di Legoktéoh hususna, nukeur
dirungrum musibah jurig.
“Bilih kabujeng nimbulkeun instabilitas, pédah
kaayaan teu kondusip. Pan dina mayunan hasil
pemilu urang kedah ningkatkeun kawaspadaan
internal jeung éksternal,”ceuk Ketua RW
gagayaan. Bari jeung dirina sorangan teu weruh
kana istilah-istilah nu bieu diucapkeun.
“Tangtu atuh,”Kadés ngetrok-ngetrok ramo kana
méja.”Komo keur kapentingan aksélérasi
pangwangunan jeung narik perhatian invéstor,
ulah aya reuweuh-reuweuh kieu.”

“Tah mangga atuh nyanggakeun kana kawijakan
Pak Kadés enggoning ngusir jurig. To de poin
wé ieu mah,”Ketua RW kawas nu hayang geura
meunang kaputusan.
“Ké anan, “Kadés gégétrét kana sirah. Ngawut-
ngawut buuk nu geus paselap bodas. “Ari jurig
mah urusan spirtual. Pan bapa mah Kadés,
ukur ngurtus soal-soal material nu aya
hubunganana jeung éksospolbud.”
“Euh, langkung rumit nya?”Ketua RW api-api
ngarti kana istilah éksospolbud nu diomongkeun
ku Kadés.

Can kaburu némbalan, da tadi Kadés ngageroan
Hansip. Nu digeroan geus ngurunyung mantén.
“Téang Mang Ikrom Kuncén. Geuwat kudu
kairingkeun,”Kadés maréntah Hansip. Nu
diparéntah, teu talangké indit ngajugjug ka
imah kuncén kuburan désa di Cantigi, nu
paeunteung-eunteung jeung Legoktéoh.

“Urusan jurig mah keun sina ku kuncén Ikrom.
Sapopoé manéhna mah sagulung-sagalang
jeung nu karitu.”
Satengah jam ti harita,kuncén Ikrom geus
jagrag. Gancang dibéré nyaho perkara nu kudu
diungkulan ku manéhna. Barang tamat Kadés
cacarita, barang kudupruk Ikrom ngarawu suku
Kadés, bari nyarita norostos :
“Teu sanggem, Juragan Kuwu, teu
sanggem…milari wénu sanés…”

“Teu sanggup?”Kadés muncereng. “Apan ceuk
béja, manéh nu mawaan jalma jarah ka
karamat-karamat, méménta tulung ka jurig ka
dedemit….”
“Leres, rumaos, Juragan Kuwu….mung abdi
mah ukur jajap wungkul. Ukur nuduhkeun
tempat-tempat karamat. Bangsaning hulu
cai,cadas gantung, kiara kahot, leuwi sanget.
Teu langkung ti kitu. Itu ieu mah kumaha nu
jararah baé,”kuncén beuki humalengis.
“Saha nu ngadon jararah téh?”Kades nyeleksek.

“Saur wartos mah caleg. Nu baradé nyaralon
dina usum nyolok kamari.”
“Jadi kumaha atuh ari geus kieu?”babadamian
ngabuntut bangkong.
Rombongan Ketua RW mulang mawa uteuk
ngajelenggut. Di jalan maranéhna ngutruk.
“Kadés pikesebeleun. Ucul tanggung écag bawa.
Semet teu bisa téh teu bisa, ngaleungitkeun
jurig. Hayoh mentés kuncén nu sarua o’on. ”
“Mun ngaleungitkeun raskin, pinter tah Kadés
téh. Warga RW urang geus tilu bulan teu
narima, lin?”

Taya nu ngawaro. Kabéh bingung mikiran jurig
nu beuki nyirig.
Tapi teu burung aya nu ngarasa
tanggungjawab. KiJibja, urut paraji sunat.
Disebut urut, sabab geus lila tara kaogan
nyunatan budak. Ĕléh ku mantri jeung dokter,
nu maruka prakték sunat. Teu béda ti nasib
Ema Iyem, paraji indung beurang. Geus lila
pisan tara aya nu ngahiras nandé orok, ngurus
nu ngajuru. Saprak pogram KB diramékeun
jeung bidan aya di unggal désa.

Sanajan kitu,Aki Jibja teu ngarasula. Teu
pangarahan. Aya maung ngamuk ngaganggu
lembur, aya gajah meta ngagunasika désa, kudu
singkil taki-taki, tandang makalangan. Kajeun
nungamuk bangsa lelembut. Kajeung nu meta
bangsa ririwa.

“Aing Jibja,béngkong sohor, tukang sunat
kawentar, moal gedag bulu salambar
nyanghareupan euwah-euwah siluman-sileman
,”Aki Jibja susumbar lalaunan, bari nénjrag
lemah tilu kali. Mapatkeun aji kajayaan warisa
karuhun “sang batukang sang batokeng, sungut
buruy sima seuseup, nyeuseup peureum genta
kenyang……..ngambat sapaat Bagénda Rosul
Muhammad….ku dua kalimah sahadat, ku
solawat…..Allohu ya Hayyu ya Qoyyum…..”

Gejlig indit muru patempatan nu sok kabéjakeun
jurig ngajirim. Wanci sariak layung. Hujan rada
miripis. Ngan panonpoé mencrang caang.
Ngahibaran Legoktéoh nu keur nandangan
tunggara digaranggang sétan sileman
marakayangan.
Ditéang ka deukeut imah Erik, suwung. Ditéang
ka tampian, sepi.

“Dihaja-haja diabrik ku aing,barirat siah jurig
téh hah !”Ki Jibja suaban.
Ngalieuk ka lebahkebon laja, dina tangkal
jéngkol aya nu keur diuk ucang-anggé bari
nyaliksik buuk nu ngarumbay. Kunti. Ku Aki
Jibja disentak .Sorana handaruan.

“Mantog siah ! Ieu mah lembur jelema. Lain
padumukan sia !” “
“Ké anan, betah kénéh sisiaran,”kunti némbalan,
bari hég sukuna sabeulah ditumpangkeun ka nu
sabeulah deui. Atuh pingpingna nu bodas sepa
katembong ngabeuleugeunjeur.
“Loba ceta,siah !” Aki Jibja nyentak
deui.”Pék,disunatan ku aing !”
“Da uing mah jurig awéwé ,”tembal kunti
kalem.”Moal enya disunatan !”

“Disoéhkeun ambéh beuki gereba !”Aki Jibja
ngacungkeun péso paragi neukteuk kulup.
“Ampuuun..”kunti ngocéak.”Heug dék balik.
Tapi ongkosan…”
“Ongkos nanahaon?”Aki Jibja ngagebés.

“Kapan uing saparakanca datang ka alam
manusa téh, dikeprak ku caleg. Maranéhna
rabul ka makam, ka hulu cai.Ménta tulung
sangkan meunang dina pemilu . Ari geus
dbantuan, cul baéditinggalkeun.”
Aki Jibja ngahuleng. Tapi teu éléh gertak.
“Mantog siah. Keun ongkos mah diurus ku aing.
Ké dikirimkeun ka ditu. Ayeuna mantog…mun
wangkelang, rasakeun seuseukeut ieu peso.
Ĕleh gos, kunti ngoréjat.

Gajleng, geleberka
lebah caringin peuntaseun astana Cantigi. Bari
ngahihih nurih langit. Bau bangké meledos,
kabawa ku angin sareupna nu reuhreuy.

Geus puguh kunti kabur, dituturkeun ku jurig-
jurig séjénna nu gimir nénjo kolébat péso sunat
Ki Jibja, breg jelema salembur daratang.
Papada ngajak sasalaman ka Ki Jibja nu tétéla
boga wewesén istiméwa.

“Horéng jurig mah teu salah. Nu salah, babatok
caleg haram jadah “Akii Jibja nyarita ka
balaréa. “Cing atuh nya, peupeuriheun ka jelema
jalir jangji téh, atuh ka jurig mah sing tigin
wé,ambeh urang teu kabawa ripuh.”

“Duit keur ngongkosan jurigna, béak dipaké
moni politik, jeung serangan pajar,”aya nu
nyelengkeung ti tengah riungan. Nu asa
katuding, gancang némbalan : “Ceuk saha,ah,pitnah éta mah.”

Isukna Ki Jibja ngagidig leumpang. Pada nanya,
cenah rék néangan alamat caleg. Rék ménta
duit keur ngongkosan jurig mulang ka tempatna
séwang-séwangan.

Hanjakal usahana nyamos. Alamat nu dijugjug,
aya.Tapi caleg nu ditujul geus euweuh. Ceuk
béja ti urang dinya, éta caleg geus pindah ka
Senayan.

“Senayan?”Ki Jibja garo-garo teu ateul.
Rumasa teu apal di mana jeung naon
Senayan.***

Posted in Uncategorized | Leave a comment