Kebahagiaan

Erizeli Bandaro menulis catatan baru: Kebahagiaan?

Dalam satu perjalanan disuatu negeri, saya bersama
teman menginap di Hotel dengan tariff diatas USD
1000 per malam. Dapat dibayangkan betapa tiggi
standard layanan hotel ini. Juga jangan tanya soal
kemewahan didalama kamar. Semuanya serba wah.

Segala impian dengan sejuta hasrat kemewahan nafsu
dunia sengaja dicreate untuk memanjakan tamu yang
menginap disini. Maklum saja bahwa para tamu yang
datang adalah businessman yang ingin menikmati
kenyamanan layanan untuk memanjakan diri. Sudah
jam 11 malam , saya masih asyik bicara dengan
teman di cafe dan bukan hanya kami tetapi juga para
tamu hotel lainnya. Kami masih diliputi banyak pikiran
tentang beban pekerjaan yang menghadang. Yang
pasti ada cemas didalam hati. Saya perhatikan tamu
yang lain juga mengalami hal yang sama. Buktinya
mereka tidak bersegera kekamar untuk menikmati
standard kamar hotel super diamond itu.

Jam dua dini hari , barulah saya undur diri dari cafe
untuk berangkat tidur. Teman ini juga ikut bersama
saya. Ruang cafe masih ramai oleh penghuni hotel.
Petugas cafe mengatakan kepada saya bahwa jam 4
pagi cafe akan ditinggalkan semua oleh tamu hotel
untuk tidur dikamarnya masing masing. Sesampai
dikamar, saya langsung menjatuhkan tubuh ditempat
tidur. Saya baru terjaga ketika jam 6 pagi untuk sholat
subuh. Jam 7 pagi ketika breakfast , teman itu sudah
ada di restoran. Sambil makan, kami kembali
melanjutkan diskusi soal tadi malam untuk mengatur
langkah strategi untuk pagi ini. Begitulah seterusnya.

Mengapa saya ceritakan ini ? tak lain untuk
memberikan gambaran bahwa kemewahan dengan
segala layanan yang memanjakan ternyata tidak
pernah kami rasakan sebagai sebuah bentuk yang
menentramkan , apalagi menghilang rasa cemas
akibat takut gagal dalam bisnis, takut gagal dalam
mengambil keputusan dan segala rasa takut.
Semua rasa takut itu dipicu dan dirangsang oleh
adanya keinginan lebih. Juga didorong oleh sikap
marah kepada pesaing yang berada diatas dan ingin
merasa lebih baik dibandingkan orang lain. Karena
itulah kerja keras dilakukan dan tanpa disadari kami
telah melakukan penyiksaan diri secara sistematis.

Saya berada didalam lingkungan seperti itu dari
kehadiran sahabat saya yang pengusaha, pejabat
negara, dosen, professional, politisi dan lain
sebagainya. Saya yakin mereka tidak pernah
merasakan kebahagian dalam sehari lebih dari 1 jam.
Bahagia dalam pengertian dimana lepas dari segala
beban dan tak tergantung sama siappun , damai
dalam pengharapan, damai dalam kekurangan, damai
dalam fitnah dan damai dalam keseharian. Padahal
ada sebagian besar manusia yang jauh dari harta
dunia namun dengan hanya USD 300 per bulan mereka
bisa mendapatkan kebahagiaan, canda tawa bersama
sahabat yang setia, anak istri yang sholeh, beribadah
dengan lapang waktu.
Data statistik hanya mengukur kemakmuran dari
harta. Mereka yang miskin kebahagiaan , miskin cinta
namun harta berlebih akan masuk kelompok makmur.
Padahal merekalah yang sebenar benarnya miskin
karena hidup mereka tidak mereka miliki. Hidup
mereka disiksa oleh dirinya sendiri. Dari berbagai
orang inilah saya mendapatkan hikmah untuk bersikap
dalam hidup. Bahwa kebahagiaan itu hanya mungkin
bila kita bisa mengelola ”keinginan ” dan dorongan ”
berkompetisi” secara berlebihan. Tak ada cara efektif
mengelola kecuali menunduk diri kita sendiri terhadap
hasrat yang berlebihan itu. Ketika kita bisa
mengalahkan diri kita sendiri maka banyak hal yang
justru tidak perlu mahal dan kadang sangat sepele
bisa membuat kita bahagia.

Sebuah riwayat dalam Hadith , dua hal yang
membinasakan manusia itu, adalah keinginan yang
berlebihan dan kedengkian ( merasa lebih baik dari
orang lain ). Karena kedengkian inilah Iblis dilaknat
sehingga menjadi terkutuk. Karena keinginan yang
berlebih itu pula , Adam dan Hawa tergoda untuk
memakan buah qalbi. Ya , manusia binasa ketika dia
dikuasai oleh dua hal itu. Maka yang namanya binasa
maka kebahagiaan menjadi sangat jauh. Kalaupun
ingin digapai maka manusia harus berkerja keras
dengan all at cost untuk mendapatkannya namun
hanya melihat fotomorgana. Semakin dikejar
kebahagiaan semakin jauh diraih. Akibatnya berbagai
penyakit phisik datang dan rasa takut semakin lekat
dalam diri maka kebahagian semakin tak terjangkau.
Kita menumpang tawa ditempat ramai dan menangis
diatas lumbung padi karena lapar.
Kebahagiaan itu ada dihati dan teramat dekat dengan
diri kita bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Untuk
menggapainya tak diperlukan ongkos mahal dan
berlelah. Cukuplah bersyukur atas nikmat Allah dengan
menebarkan cinta dan kasih sayang kepada mereka
yang tidak beruntung atau yakin bahwa harta itu milik
Allah dan digunakan untuk beribadah kepada Allah.

Dan Bila terkena musibah maka bersabarlah. Sikap
inilah , dalam kondisi apapun, maka kebahagiaan akan
selalu menjadi milik kita. Karena kita melangkah hanya
untuk mencari ridho Allah bukan rasa hormat atau
pujian dari manusia.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>