Dilema Bangsa Jin

DILEMA BANGSA JIN .

Kuntilanak duduk lesu di atas sebuah batu di bawah
pohon bambu. Tatapannya nanar memandang jauh ke
depan sambil sesekali menghela nafas. Tak lama
kemudian pocong lewat sambil loncat-loncat.

“Eh ada Neng Kunti….” Sapa pocong dengan nada
genit.

“Eh Bang Ocong…” sahut Kunti lesu.

“Neng Kunti ngapain di sini? Kok kelihatannya sedih
sekali? Apa ada yang bisa saya ban…ting?” tanya
pocong sambil duduk di samping kunti dengan nafas
terengah-engah.

“Bang Ocong sendiri kok kelihatannya cape sekali?”

“Emang kamu pikir aku ga cape loncat-loncat kayak
gini kesana kemari?” keluh Pocong.

“Hiiiihihihihihi! Hiiihihihihihi!!” Kunti tertawa geli.

“Aiiih…merdunya tawa Neng Kunti, aku sukaaa sekali…”
rayu Pocong.

Mendadak tawa Kunti terhenti, wajahnya langsung
cemberut.

“Bang Ocong jangan boong deh! Aku ga suka dirayu
kayak gitu!” kata Kunti ketus.

“Loh, memangnya kenapa Neng Kunti? Aku ga bohong
kok, selain tawamu merdu, di mataku kau tampak
cuantiiiiik sekali!!”

“Cuih gombal! Jangan maksa deh Bang! Kalo aku
memang cantik, terus kenapa cowok-cowok bangsa
manusia pada lari kalo lihat aku? Itu yang aku pikirin
dari dulu Bang, makanya aku sedih! Hatiku hancur
berkeping-keping bagaikan emping dimakan kucing!!”
kata Kunti kesal.

“Oooh…itu toh masalahnya,” Pocong manggut-
manggut. “Ehem! Begini Neng Kunti, sebenernya kita
tuh ga serem-serem amat, tapi kita dikutuk sama
manusia, makanya kita jadi serem begini.”

“Maksud Abang? Manusia dikasih kekuatan buat
ngutuk kita?”

“Oh bukan, maksudku begini Neng Kunti…wujud kita
itu dibentuk oleh persepsi manusia…”

“Persepsi itu…semacem acara kawinan gitu ya Bang?”
potong Kunti.

“Itu mah resepsi kaleee….!! Dohh, plis deh ah….”

“Owh, salah yah? Terus? Terus? Lanjutkan Bang…”

“Nah, masalahnya, banyak anak manusia yang dari
kecil udah sering ditakut-takutin sama orang tuanya.

Kalo anak-anak masih pada maen di luar ketika hari
menjelang malam, mereka suka dipaksa masuk sambil
dibilangin, “Ayo cepet masuk nak, hiii tatuutt, nanti
ada setan loh, nanti digigit brondong…eh nenek
grondong loh, nanti diculik kalong wewe loh, enak toh,
mantep toh…” kayak gitu loh Neng Kunti…”

“Oooo…gitu toh. Terus cuma karena gitu doang
mereka jadi takut sama kita?”

“Oh itu belum seberapa Neng Kunti, ada yang lebih
parah lagi. Selain anak-anak diceritain betapa
seremnya kita, sinetron-sinetron sama film-film horror
juga ikut ngebentuk wujud kita dalam pikiran manusia,
bahwa seseram itulah kita dan sejahat itulah kita,
sampe kita diceritain suka bunuh orang segala, kita
udah dipitnah habis-habisan Neng Kunti…”

“Kalo gitu…mestinya wujud Bang Pocong juga ga
dibungkus kayak permen gini dong?”

“Mending kalo kayak permen! Ini kayak bantal guling!

Sakit hati aku disamain kayak bantal guling! Emang
orang pikir aku mau dibungkus-bungkus kayak gini?

Udah gitu ga bisa ngapa-ngapain, bisanya cuma
loncat doang. Tersiksa tahu pake kostum kayak gini!”
rutuk Pocong.

“Terus gimana dong biar kita bisa lepas dari kutukan
wujud seram ini?” tanya Kunti.

“Hmmm…sayangnya agak sulit Neng Kunti. Selama
masih banyak manusia yang menganggap kita sebagai
mahluk seram yang lebih berkuasa dari mereka, kita
akan sulit lepas dari kutukan ini. Emang sih ada juga
di antara kita yang jahat yang suka usilin orang, tapi
orang beriman mah aman dah. Lagipula kan ga semua
bangsa jin jahat. Tapi dalam film aku suka difitnah
jahat, film tentang aku beredar begitu banyaknya, ada tali pocong perawan, pocong vs kuntilanak, pocong 2,
sumpah pocong, dll…emangnya gua pocong ganteng apaan?”

“Terus gimana dong Bang? Aku kan ga mau manusia
terus-terusan salah resepsi tentang bangsa kita…”

“Hmm…kita berpikir positif aja Neng Kunti. Itu langkah
awal yang selalu dilakukan manusia sukses dalam
mencapai impiannya.”

“Caranya?”

“Caranya…tukarkan 3 bungkus kosong rinso ke
warung-warung terdekat, lalu perhatikan apa yang
terjadi…”

“Yang terjadi semua pada lari!” omel Kunti.

“Becanda Neng Kunti. Ya kita berharap saja suatu hari
nanti semua manusia akan menyadari bahwa tak ada
gunanya lagi takut sama kita-kita ini. Jadi kita harus
membuat visi
dan misi untuk menjadi mahluk yang
tidak lagi ditakuti, untuk itu kita harus berani
bermimpi!”

“Tapi kalo cuma mimpi doang mah kapan terjadinya
Bang. Harus take action dong! Kan katanya take
action miracle happen, no action nothing happen!”
sergah Kunti.

“Iya sih, tapi kan….”

“Ah sudahlah…aku mau take action sekarang juga!”

Kunti pun beranjak dari tempat duduknya.
“Eh, mau kemana Neng Kunti? Tungguuu!! Aku…aku
padamuuu…!!”

Kunti tak menggubris, dia langsung terbang ke tepi
jalan raya. Disaat itu sebuah motor lewat. Kunti pun
langsung menampakkan diri.

CKIIIITT! GUBRAAAKK!! Si pengemudi motor jatuh
akibat mengerem mendadak saking kagetnya.

“SETAAAAAAAAAAN!!” Teriak pengemudi motor itu
ketakutan sambil berusaha berdiri tapi tak bisa karena
lututnya lemas.

“Hai cowoook!!” sapa Kunti sambil melambaikan
tangan dan melempar senyum termanisnya. Tapi di
telinga manusia, sapaan Kunti terdengar sebagai tawa
yang berbunyi, “Hiiiihihihihihihi…!!”

“WAAAAAAA!! KUNTILANAAAK!!” si pengemudi motor
langsung terkencing-kencing.

“Mas! Mas! Jangan takut Mas! Kita ga jahat kok! Kita
kan pren!” seru Pocong yang datang menyusul sambil
loncat-loncat.

“WAAAAA!! POCOOOOOOONGG!!” dan pingsanlah orang
itu.

“Yaah…gagal maning son…” Kunti terduduk lesu.

“Sudahlah Neng Kunti…emang seseram itulah wujud
kita-kita dalam pikiran mereka ini. Jadi ga usah
maksain diri, lebih baik kita pergi, terus kita lari-lari di
bawah pohon kenari sambil bernyanyi dan menari tuk
menghibur hati…” hibur Pocong sambil menyeringai.
“Film India kaleee…” jawab Kunti sambil melayang
pergi.

“Yuk mareee…” kata pocong melompat mengikuti.

Catatan M. Goen

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>